I am The Invincible
Selasa, 12 Februari 2013
Sabtu, 09 Februari 2013
Silahkan Dibaca
jadi sudah mulai merasa nyaman dengan keadaan seperti ini?
terus bersembunyi dibalik sunyi, tidak ada kata menyapa, dan saling berteriak dalam diam menyatakan ketidakperdulian satu sama lain. menampakkan keangkuhan masing-masing seakan bisa dan mampu hidup sendiri.
kita seperti terjebak dalam gengsi agung yang mengekang diri kita sendiri. ingin, namun lebih memilih untuk tidak mengalah demi mempertahankan kekerasan hati dan kepala. kita berdua sama-sama mengerti bagaimana harus menghentikan kekakuan ini, namun kita lebih memilih untuk tidak perduli atau bahkan pura-pura tidak perduli. sampai kita tega mengabaikan rindu yang menjadi satu-satunya senjata untuk mempersatukan kita.
tapi mengapa seakan kekuatan rindu sudah tidak mampu lagi mengalahkan keangkuhan dan ketidakperdulian itu? apakah cinta juga sudah mulai melangkah pergi dari hati kita?
ketika bukti-bukti cinta mulai memudar, dan kata-kata yang akan mengembalikannya malah tenggelam dibalik keangkuhan.
kapan bisa kembali mendengar kata indah dari mulut kita untuk saling mengungkapkan cinta, sayang dan kerinduan yang tidak bisa dihalau lagi. kalau memang sikap dingin menjadi sebuah pembelaan, maka bahan bakar yang aku punya sudah mulai habis untuk menyalakan api. api yang bisa menghangatkan dinginnya suasana dan mencairkan hati yang beku. dimana kita simpan memori indah pernyataan cinta dan janji yang sudah diucapkan? kita seakan sudah lupa dengan semua itu, lagi-lagi ketidakperduliaan dan keangkuhan menghilangkan rasa manusiawi kita. bahkan kita tega menyakiti satu sama lain dengan teriakan dalam diam.
kita sudah tidak mengenal diri kita, sibuk mempertahankan ideologi masing-masing dan hujatan-hujatan tidak langsung mulai berani disampaikan. ada apa dengan kita?! siapa yang mulai berubah?!
Sabtu, 26 Januari 2013
Tuhan Punya Cara Sendiri
terkadang mengingat masa lalu membuat saya tertawa sendiri, menangis terharu seakan ingin waktu membawa suasananya kembali. tapi apa daya, yang lalu akan selalu berada di masa lalu. mungkin kita bisa menghadirkan suasananya menjadi sebuah tradisi agar mudah dikenang. berbagai macam tradisi turun-temurun tidak akan pernah sama setiap jamannya. modernitas dan kemudahan akan merubah segalanya. sama seperti memori yang ingin dikembalikan, mungkin bisa diulang tapi tidak akan pernah sama rasanya.
bicara tentang masa lalu, saya ingin bercerita sedikit tentang kami. cerita bagaimana kami bisa berkenalan. semua berawal dari media sosial dan berujung dengan kebersamaan. sejak awal kenal melalui media sosial kami memang bersama namun dipisahkan oleh jarak bermil-mil jauhnya, pangkal dan ujung kedua pulau sumatera.
semuanya dimulai dari mention 'iseng' yang saya lontarkan dan dibalas dengan baik. saya rasa dia memang tipe lelaki seperti itu, menanggapi setiap perempuan yang menyukai lawakan atau karyanya yang lain. tapi mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kami, semua berjalan lebih lancar. hubungan kami semakin dekat dengan saling bertukarnya pin bb. canda tawa, lawakan-lawakan bodor yang menyenangkan membuat suasana semakin nyaman. sampai pada suatu saat saya mulai merasa ada yang berbeda. rasa rindu, sepi dan kehilangan yang datang ketika tidak saling bertukar kabar dan semua perasaan ini mulai terasa aneh. ketika sekelebat kata 'cinta' merasuki pikiran, saya langsung mengibaskannya. mana mungkin mencintai orang yang berada jauh darimu bahkan kamu sendiri pun belum pernah melihatnya langsung. apakah dengan hanya mendengar suara dan canda tawa melalui ketikan dapat menumbuhkan perasaan sakral ini?! saya semakin tidak percaya dengan apa yang saya rasakan, mengabaikan perasaan yang saya pendam meski sebenarnya menyiksa. tanpa kami sadari, sindiran-sindiran pernyataan perasaan mulai diluncurkan. tak luput panggilan 'sayang' memenuhi obrolan. awalnya saya paham kalau ini bukan main-main, tapi mencoba untuk tidak terlalu berharap saya tidak menghiraukan panggilan itu. cukup lama kami dalam situasi seperti itu, dan selama itu pula kami mulai belajar memahami diri masing-masing. tapi semua itu tidak cukup bagi saya, mengingat dia adalah tipe lelaki yang banyak dekat dengan wanita. satu-satunya cara saya untuk tetap bersikap biasa adalah dengan mengabaikan perasaan saya dan tidak mengindahkan pernyataan-pernyataan menjurus darinya. jujur saya tidak tersiksa dengan memendam perasaan ini, karena saya menganggap ini hanya sebuah fase pendekatan dan tidak akan pernah lebih dari ini. satu-satu alasan yang saya dapati di diri kami adalah jarak. tidak mudah bagi saya menjalin 'hubungan lebih' dengan jarak yang jauh, apalagi saat itu saya belum pernah melihat sosoknya secara langsung.
tapi Tuhan memang punya rencana, sesaat sebelum saya memutuskan untuk membuang jauh-jauh perasaan saya, dia menyampaikan berita bahwa dia akan kembali ke kota tempat saya tinggal. awalnya saya tidak percaya, karena jauh sebelum ini saya sudah sering sekali meminta dia untuk pulang tapi dengan tegasnya dia bilang tidak bisa. kenapa tidak bisa? karena tidak ada satu hal pun yang bisa membuatnya bertahan disini. dia merasa tinggal dikotanya lebih baik, dengan teman dan suasana yang lebih menyenangkan. dan ketika dia sampaikan kabar bahwa dia akan kembali, semuanya semacam angin segar namun gempa kecil bagi saya. mengapa angin segar? bahwa saya tidak perlu membuang perasaan saya, cukup bertemu dan mencocokkan dengan apa yang selama ini saya kenal. mengapa gempa kecil? bahwa jika apa yang diharapkan tidak sesuai keinginan, saya harus kembali pada rencana awal yaitu 'membuang perasaan'.
tiba disaat dia sampai dan meminta untuk bertemu. dengan senang hati saya menerima tawarannya. kami bertemu disalah satu tempat makan, disana kami saling bercerita tentang semua hal-hal umum, sifat dan kebiasaan. saya mencoba bersikap sangat biasa, namun tidak bisa dipungkiri pikiran saya berkecamuk antara senang, bingung, kagum dan perasaan-perasaan lainnya. setelah pertemuan kali ini usai, perasaan tidak nyaman namun bahagia mulai datang. saya takut setelah pertemuan yang kami jalani, ada satu sisi yang tidak bisa diterima dan kami malah menjauh. tapi Tuhan memang baik, kami terkesan satu sama lain dan membuat janji bertemu kembali lain waktu. tapi sayang, keesokan hari setelah bertemu, dia harus pergi keluar kota menemani ayahnya. tapi ini juga momen yang tidak pernah saya lupakan. dimulai dari pagi hari setelah dia berangkat sampai batrei ponsel habis kami tidak berhenti bertukar kabar. dan terjadilah kegiatan bertelepon yang pertama. semua terasa canggung awalnya, tapi berjalan mulus begitulah sampai hari kedua. hari berikutnya setelah dia kembali, kami mengatur jadwal pertemuan lagi. hampir sama dengan yang pertama, semua cerita kami sampaikan. gelak tawa dan lawakan konyol tidak luput dari cerita kami sore itu.
begitulah hari-hari yang kami jalani, sampai pada suatu waktu dia memutuskan untuk menyampaikan sesuatu. inilah saatnya bagi saya mengeluarkan perasaan dari persembunyian dan menghadirkannya ditengah pembicaraan kami. rasanya sangat indah, dia yang sebelumnya sangat pandai bercerita, kali ini tersendat-sendat, antara gugup, takut, dan bahagia. begitu juga dengan saya, rasanya semua pertanyaan dan pernyataan cinta nya ingin saya jawab hanya dengan satu kecupan lembut di pipi, namun saya tahu itu tidak mungkin. bahagia dan haru menjadi satu ketika mendengar ucapannya dan perasaan aneh itu datang kembali. satu hal lagi, diatas sudah saya sebutkan bahwa dia tidak ingin pulang dikarenakan tidak ada alasan baginya untuk menetap dan kali ini dia meminta saya untuk menjadi alasan terkuatnya untuk tetap tinggal disini. sungguh sangat menyenangkan, mendapati diri bisa menjadi satu alasan seseorang untuk berani memilih. saya hanya merasa sangat bahagia hari itu, perasaan mengapa kami saling menyukai dan kenyamanan yang kami dapat selama berbicara lewat ketikan membuktikan pada saya bahwa cinta bukanlah turun dari mata lalu ke hati, tapi cinta memang dari hati dan akan tetap disana selama yang kamu inginkan.
dan sekarang, masa perjalanan yang sedang kami arungi sudah berjalan tiga bulan. memang belum lama, tapi ranjau dan batu yang menghadang kami sungguh banyak. satu bulan pertama masalah besar datang. beruntungnya keseriusan dan keterbukaan yang sudah menjadi komitmen dari awal, menjadi pegangan yang kokoh bagi kami. menghilangkan prasangka-prasangka buruk dan menghadirkan suasana positif dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan kami. semoga apa yang sudah tertulis akan selalu dikenang dan semoga cerita esok setelah ini akan bisa diteruskan sampai saya dan dia dipisahkan oleh maut
Jumat, 18 Januari 2013
Diam bukanlah sabar yang taat
tak usah kau pandang diam sebagai lamunan
senyap tak akan bisa mengubah keadaan
jika memang sebaiknya sunyi akan kucari tempat menjauh
agar bisa berpikir lebih jernih
sabar juga punya bibir yang curam
tidak landai seperti pantai
sekali kau sudah sampai diujung, tergelincir lalu jatuh
kau tidak akan pernah bisa kembali ke atas.
luka yang kau hasilkan akan berbekas dan menyayatmu selamanya
memori yang tersimpan tidak akan hilang sepejaman mata
setarikan nafas maupun satu jentikan jari.
perlu kesabaran untuk melatih sabar
sabar menjunjung tinggi kepercayaan
jagalah percaya makan sabar akan mengikuti.
Sabar itu memaafkan
Sabar akan membantu untuk memaafkan
Memaafkan bukan berarti melupakan,
Memaafkan hanya mengesampingkan
Mengesampingkan kesalahan yang diharap tak lagi dilakukan
Sabar mencangkup percaya, maaf dan melupakan
Namun, diam bukanlah sabar yang taat.
Kamis, 17 Januari 2013
Tenang dibalik ketenangan
matahari senja mengguratkan sinar penutupnya
membiaskan cahaya menyeruak selinap sanubari
terkadang nyaman menutupi hati
kadang menyerang mengalahkan
tidak semua tenang sepenuhnya diam
goresan kecil kata menyobek kekhawatiran
semakin luas jiwa berkelana
semakin bias cahaya melindungi
mungkin langit ingin melindungi langkah
mencari kesenangan yang akan segera datang
yakinlah gelap akan segera terang
inilah tenang dibalik ketenangan
yang tidak akan selamanya diam
Selasa, 15 Januari 2013
pergi dari perih
sembunyi
semakin lama disana semakin tidak ada yang perduli denganmu
begitu denganku apalagi dia
bagaimana kau bisa bertahan tanpa diperdulikan
aku pun sudah letih mengajakmu dalam pembicaraan
dia menganggap seakan kau hanya sebatas kata penyambung senyap
namun kau bukan hanya sebatas kata bagiku
kau memberi aku kekuatan, kekuatan untuk tetap menjaganya
keinginan, keinginan untuk tetap mendekapnya
menyampaikan berbagai rasa yang takkan pernah bisa terungkap
aku mengerti harapnya
dia tak ingin kau hanya menjadi kata, tumbuhlah lebih dewasa lagi
aku tak punya cukup bekal untuk menjadikanmu gerakan
nyaliku tak sampai di puncak cerita
tapi aku tau, kau akan terus menyertai kami.
karena kau adalah rindu yang tak akan pernah aku jauhkan